Pagi hari ditemani kopi, sambil menikmati hasil kerja keras para buruh tinta yang senantiasa mencari berita untuk mengisi kepala anak bangsa, walau kadang sampai sampah-sampah informasi ikut terangkut. Tapi tidak kenapa, itu adalah kerja keras mereka, daripada aku yang hanya mampu mencaci tapi malas mencari informasi yang sekelas data.

Setelah pemilu 2014 kemarin, media sosial dipenuhi dengan caci maki serta puja-puji yang tak ada habisnya, terus saling bersahutan. Jokowi cengengesan dalam pertemuan Brooklin aja langsung dihujat dan dibela, secara telanjang Ayahanda Jonru dan para jomblo di mojok.co mewakili ritual pasca pilpres tersebut, pengusaha-pengusaha robot twitter untuk memenangkan hestek pun laku keras.

Lupakan pancasila tentang Persatuan Indonesia, itu hanya mitos masa lalu, kalau lu masih meyakini pancasila, bisa dikatakan lu orang gak bisa move on, kebayang kan kalau persatuan Indonesia itu menjadi dogma bagi seluruh anak bangsa, akan timbul berapa banyak kegaduhan akibat donor asing yang tersendat karena kehendak meng-eksploitasi ibu pertiwi terhadang. Berapa ratus ribu aktivis akan nganggur karena kehidupan sudah tak seru lagi, tidak ada injak-menginjak, jilat-menjilat. Bangsa ini akan termiskinkan secara struktural, aktivis yang selama ini membela rakyat akan mengalami kemiskinan gara-gara kehabisan order demo, sosialisasi, dan proyek yang selama ini menghidupi keluarga mereka, belum lagi PKL penjaja makanan saat demo, atau polisi yang mendapatkan uang tambahan untuk menjaga aksi. Huh, pasti banyak efek samping yang lebih berbahaya dari sekedar iklan rokok.

Lupakan tentang 90% sumber daya alam yang belum digarap sama anak bangsa yang tahunya cuma nuntut tapi gak bisa berkarya. Atau tentang menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran, karena kita serta merta menafsirkan nahyi  dalam bentuk bakar membakar, maki-memaki, sesat-menyesatkan, padahal setan diberikan waktu untuk hidup sampai manusia tidak ada lagi dibumi. Lupakan tentang khazanah pengetahuan, karena perang sesama manusia lebih mendesak, atau lupakan tentang menciptakan sains yang berwawasan penyelamatan, karena kita lebih suka mengeksplorasinya hanya untuk mengenyangkan otak tanpa perlu tahu akibatnya. Lupakan semua, lupakan, biarkan alam membentuk kita menjadi manusia pikun.

Ini hanyalah curhat, yang menurut Salman Ramdhani tidak pantas ditulis oleh seorang aktivis yang telah melalui proses terbentur, terbentur, terbentur dan terbentuk namun tetap goblok ini.

Yazid Qulbuddin
Presiden Bedug Revolusi

PII oh PII dikau kucinta
Yang Maha tinggi lindungi PII
Penegak pemersatu umat Islam
Perintis menuju kubah
Islam jaya (Musafir Kelana)

Bismillahirrohmanirrohim

Dalam sejarah Indonesia, Ummat Islam mempunyai tempatnya tersendiri dalam memperjuangkan dan menciptakan kemerdekaan Indonesia hingga saat ini. Dari mulai perlawanan Serikat Dagang Islam (SDI) melawan korporasi VOC yang saat itu menguasai pasar Indonesia dilanjutkan penentangan HOS Cokro Aminoto pada kekuasaan Belanda dan menghendaki Indonesia lepas dari Netherland serta membentuk pemerintahan sendiri, hingga perjuangan-perjuangan ummat era reformasi ini. satu persatu tujuan telah tercapai, namun masih banyak juga masalah yang menderita ummat Islam Indonesia.

Kemiskinan dan kebodohan masih menjadi momok yang menakutkan yang melanda ummat Islam, tidak sulit bagi masyarakat Indonesia untuk menemukan kriminalitas yang melanda. merosotnya moral dan adab juga melanda kaum kaya sehingga alih-alih mensejahterakan masyarakat justru ikut andil besar dalam pengrusakan alam. pekerjaan rumah yang tidak sedikit bagi ummat Islam dalam menyelesaikan masalah-masalah kontemporer yang lebih kompleks dari masa-masa terdahulu.

Menurut Faiz Mashur Rasulullah mengutamakan terwujudnya Etik-Islam (Akhlakul Karimah) dengan model empirik berupa masyarakat madani, yang secara umum saripatinya bisa mendasarkan pada lima tujuan universal, yakni Hifdz al-‘aql, menjamin kreativitas berpikir dan kebebasan berekspresi serta mengeluarkan pendapat; Hifdz al-dien, menjamin kebebasan beragama; Hifdz al-nafs, memelihara kelangsungan hidup; Hifdz al-mal, menjamin pemilikan harta dan property; dan Hifdz al-nasl wal-‘irdl, menjamin kelangsungan keturunan, kehormatan, dan profesi.

Nilai-nilai Islam bukan tidak diperjuangkan, telah banyak ijtihad yang dilakukan oleh ummat Islam era-reformasi, sebut saja Islam politik yang diperjuangkan oleh ummat Islam yang tergabung dalam partai, tidak sedikit pula ijtihad-ijtihad parlementaria sumbangan mereka untuk mewujudkan nilai-nilai Islam, namun banyak juga akibat yang disebabkan oleh Islam politik yang mengakibatkan cidera bagi ummat, contohnya ummat terbelah dalam berbagai kepentingan praktis juga keributan-keributan yang berujung pada konflik yang terjadi akibat proses politik. demokrasi liberal yang menekankan meraup suara sebanyak-banyaknya yang pada akhirnya setiap yang bertentangan dengan partainya dianggap sebagai lawan.

Tulisan ini sedikitpun tidak berniat membawa pembaca pada wacana sekulerisme dimana agama harus pisah dari negara, instrumen negara sangatlah penting bagi berkembangnya Islam dibumi Indonesia namun Negara tidak selalu mebawa masyarakatnya pada prinsip-prinsip yang dianut oleh negara itu sendiri, seperti apa yang diterangkan oleh Adian Husaini bahwa kekuasaan politik bukanlah segala-galanya. Banyak peristiwa membuktikan, bahwa pemikiran, keyakinan, dan sikap masyarakat, tidak selalu sejalan dengan penguasa. Di masa Khalifah al-Makmun, yang Muktazily, umat Islam lebih mengikuti para ulama Ahlu Sunnah, ketimbang paham Muktazilah. Di masa penjajahan Belanda, umat Islam tidak mengikuti agama penjajah, dan lebih mengikuti kepemimpinan ulama. Banyak lagi contoh lain.

Masih menurut Adian Husaini Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam ditinggali dua perkara, yang jika keduanya dipegang teguh, maka umat Islam tidak akan tersesat selamanya. Keduanya, yakni, al-Quran dan Sunnah Rasululullah. Tapi, disamping itu, Rasulullah saw juga mewariskan para ulama kepada umat Islam. Ulama adalah pewaris nabi. Ulama-ulamalah yang diamanahkan untuk menjabarkan, mengaktualkan, membimbing, menerangi, dan memimpin umat dalam bidang kehidupan. Banyak ulama yang mensyaratkan ‘kemampuan berijtihad’ bagi kepala negara (khalifah).

Ulama yang Intelek, Intelek yang Ulama

Setiap muslim dan muslimah wajib memperluas dan memperdalam ilmu pengetahuan (pengertian, penghayatan, dan penguasaan) tentang Islam dalam segala aspek sesuai dengan kemampuannya, pada setiap kesempatan terus-menerus sampai akhir hayat (Falsafah Gerakan; Komitmen Keislaman PII)

Kewajiban belajar adalah kewajiban seumur hidup, dalam Islam budaya belajar merupakan budaya yang dimulai sejak Muhammad SAW menerima wahyu pertama, kemudian terjadi proses pengkajian tentang Islam di rumah Arqom, tidak sedikit Allah menyindir umat yang tidak berfikir dalam Qur'an. kemudian Qur'an juga menjelaskan bahwa akan meninggikan derajat orang yang berilmu dan beriman. Betapa tinggi dan mulianya ilmu dalam pandangan Islam.

Yudi Latif menjelaskan bahwa Pelajar Islam Indonesia adalah sebuah organisasi yang dilahirkan oleh intelektual generasi ketiga Indonesia, kader PII memiliki beban sejarah untuk terus memproduksi ulama cendikiawan yang menggunakan ilmunya dalam menciptakan sebuah kebudayaan Islam. Peradaban agung yang menghormati setiap nyawa manusia, egaliter, peduli sesama, saling membantu dalam kebaikan dan kebenaran, penghormatan terhadap hak-hak perempuan, dan mengupayakan kembali kepada Allah dalam keadaan selamat.

Proses kaderisasi sejatinya adalah proses perbaikan sebuah kaum. Proses transformasi yang dilakukan oleh PII, merupakan proses transformasi nilai, dimana nilai tersebut tercermin dalam falsafah gerakan, setiap kader yang dibina PII, diharapkan mampu menguasai pandangan alam Islam, atau Islamic worldview serta mengaktualisasikannya dalam setiap gerak dan langkah, disinilah peran daripada PII dalam melakukan proses peng-adaban.

PII menghendaki sebuah peradaban Islam dimana setidakya Dr. Mustafa As-Siba’I mencirikan peradaban Islam dalam bukunya Peradaban Islam antara lain 1.) Berasaskan Tauhid, 2.) Kosmopolitanisme, 3.) Berasas pada moral yang agung, 4.) Menyatukan Agama dan Negara, 5.) Toleransi yang mulia. Proyek reaktualisasi peradaban Islam akan mampu terlaksana jika roda perkaderan mampu me-recycle keburukan yang terjadi dimasyarakat.

Randi Muchariman menegaskan dalam menej Indonesia bahwa proses pembinaan generasi, filsafat tentang perubahan sejarah atau masyarakat perlu dipegang, dia membaginya dalam tiga unsur, yaitu pemikiran, materi, manusia/kelompok, lebih lanjut dijelaskan bahwa pemikiran dijadikan sendi perkembangan dan dua unsur lainnya mengikuti pemikiran, maka masyarakat itu sehat. Jika manusia/kelompok itu menjadi sendinya maka masyarakat itu sakit, dan jika materi yang menjadi sendi maka masyarakat itu sekarat.

Jika kondisi saat ini masyarakat telah menjadikan materi sebagai sendi diantara unsur ilmu dan manusia/kelompok sehingga melahirkan masyarakat yang sekarat, sebagai contoh dalam pengelolaan lingkungan, jika pengelolaan lingkungan dilandasi oleh ilmu yang benar maka akan terjadi keseimbangan, namun dalam prosesnya kini pengelolaan lingkungan terjebak pada proses pemuasaan nafsu sehingga alam menjadi rusak.

Walisongo menggunakan instrumen kebudayaan dalam mengislamkan masyarakat, bukan hanya kaum tua, bahkan instrumen lagu-lagu serta mainan anak-anak dijadikan alat internalisasi nilai Islam,Lagu-lagu dan mainan tersebut banyak dilakukan di sekitar masjid sehingga mendekatkan remaja dan anak-anak kepada masjid. Di samping itu, lagu-lagu dolanan, model-model permainan maupun lagu macapat tersebut dirancang secara filosofis sehigga mereka mempunyai nilai pedagogis.

Maka sudah saatnya PII kembali membina masyarakat terutama masyarakat pelajar sebagai basis daripada dakwah PII. Ta'lim yang merupakan segitiga proses kaderisasi harus digencarkan oleh daerah dan komisariat dalam basis-basis sekolah, kampus ataupun komunitas, wajib bagi seluruh lembaga PII memiliki perpustakaan agar PII menjadi epicentrum pergerakan intelektual. Menjadikan masjid sebagai basis pergerakan keummatan, mendekatkan anak-anak kepada masjid sejak dini. program-program sederhana namun bersifat partisipatorik, menarik sehingga diterima setiap kalangan.

Dalam kondisi masyarakat yang kekurangan ulama, pada awal pendirian PII, para pendiri menghendaki lahirnya kader yang ulama intelektual, ini harus dijawab oleh setiap kader PII dalam kondisi insyaf dan sadar akan tanggung jawabnya pada sejarah perjuangan ummat Islam Indonesia, proporsi ulama yang timpang harus mulai diisi agar ummat tak kehilangan arah dalam kegelapan zaman. Wallahu 'alam

  1. http://insistnet.com/antara-shalahuddin-dan-al-ghazali/
  2. http://indoprogress.com/2015/03/islam-kota-islamisme-dan-kafir/
  3. Suparjo. Islam dan Budaya: Strategi Kultural Walisongo dalam Membangun Masyarakat Muslim Indonesia, Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Purwokerto 2008
  4. Setjen PB PII. Falsafah Pergerakan PII, Jakarta. 2010
  5. Muchariman, Randi. Menej Indonesia, Jakarta. 2012
  6. As-Siba’I, Musthafa. Peradaban Islam. Dar Al Waroq li Nasyr wa Tauji’. Beirut-Libanon. 1999
  7. Latif, Yudi. Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abad Ke-20, Bandung. 2005